TEMU BISNIS “PENGEMBANGAN AGRIBISNIS AREN MENDUKUNG PEREKONOMIAN DAN PARIWISATA KABUPATEN LEBAK”

Dinas Pertanian Kabupaten Lebak bekerjasama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian menggelar Temu bisnis “Pengembangan Agribisnis Aren Mendukung Perekonomian dan Pariwisata di Kabupaten Lebak”. Temu Bisnis merupakan salah satu upaya membangun jejaring usaha petani dan UMKM komoditas Aren di Provinsi Banten. Kegiatan terselenggara melalui kegiatan Hilirisasi Inovasi dan Teknologi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Banten pada 30/09/2021 di Rangkasbitung.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) selama Pandemi Covid-19.

Temu bisnis dibingkai dengan tema “Pengembangan Agribisnis Aren Mendukung Perekonomian dan Pariwisata Kabupaten Lebak”. Temu Bisnis dihadiri oleh berbagai stakeholders aren kurang lebih sebanyak 40 orang.

Mengawali pelaksanaan acara, Kepala BPTP Banten, Dr. Ismatul Hidayah, SP. MP dalam laporannya menyampaikan bahwa Aren merupakan salah satu komoditas unggulan di Kabupaten Lebak, komoditas ini memiliki nilai ekspor yang tinggi ke beberapa negara. Untuk itu, lebih lanjut disampaikan bahwa kegiatan ini dilakukan dalam mendorong agribisnis aren di wilayah Banten umumnya dan Lebak pada khususnya. Harapannya, kegiatan ini akan bermanfaat dalam menumbuhkan usaha berbasis aren dari hulu hingga hilir yang berorientasi pasar, menguntungkan dan berkelanjutan.

Sementara itu, Kepala BBP2TP yang diwakili oleh Prof. Rubiyo menyampaikan bahwa aren merupakan tanaman serba guna, tumbuh di alam dengan baik di Kabupaten Lebak. Tingkat rendemen aren di Kec. Sobang mencapai 13% lebih tinggi dari rendemen tebu yang maksimal hanya 11%. Di samping itu, nilai ekspor aren cukup tinggi. Menurutnya, potensi yang sangat besar ini menjadikan aren harus dikembangkan dalam rangka mengungkit perekonomian daerah dan nasional. Peningkatan agribisnis aren secara massif dapat dilakukan salah satunya dengan usaha bersama antara petani dan pengusaha. Untuk itu, lebih lanjut disampaikan bahwa Kementerian Pertanian dalam hal ini Badan Litbang Pertanian ikut mendorong program percepatan agribisnis aren dengan kegiatan hilirisasi aren yang ada di BPTP dan BBP2TP.

Prof. Rubiyo menambahkan bahwa aren selain memiliki nilai ekonomi tinggi juga memiliki nilai konservasi tanah dan air. Di samping itu, keragaman genetik aren Banten/Lebak tinggi dan bisa dikembangkan menjadi aren unggulan nasional. Menurutnya, nilai tambah lainnya adalah aren dapat mendukung percepatan pembangunan pariwisata di Kabupaten Lebak.

Di akhir sambutannya, Prof. Rubiyo menyatakan bahwa sumberdaya manusia yang bergerak pada komoditas aren sangat mumpuni dengan hadirnya para petani milenial. Semua potensi tersebut dapat dijadikan tumpuan dalam pembangunan pertanian di Kabupaten Lebak.

Selanjutnya, Kepala Dinas Pertanian Kab. Lebak Rahmat Yuniar, SP, M.SI dalam sambutannya menyatakan bahwa pengembangan aren diharapkan dapat dijadikan agrowisata. Menurutnya, tahun 2020, sudah dilakukan penataan dengan konsep kawasan. Temu bisnis ini diharapkan dapat menjembatani semua permasalahan serta potensi pengembangan aren sehingga semua stakeholders, dinas terkait, pelaku usaha, petani, bank serta pemerintah pusat dan daerah dapat saling mendukung pengembangan agribisnis dan agrowisata aren di Kabupaten Lebak.

Dalam sesi diskusi terungkap beberapa permasalahan terkait aren dan stakeholder mengharapkan terwujud solusinya, misalnya terdapatnya gula batok aren di pasar yang telah dicampur dengan bahan lainnya sehingga kualitasnya rendah, pencampuran ini juga dipicu akibat tingginya permintaan sementara pasokan belum memadai. Produksi bisa kontinyu jika aren dibudidayakan secara luas, dengan menggunakan varietas unggul dan menerapkan teknologi budidaya yang sesuai.

Selain itu, beberapa stakeholder menyatakan keunggulan aren Banten dengan menyampaikan bahwa kualitas aren Banten masih terbaik. Selanjutnya, terdapat stakeholder yang telah mengembangkan aren unggulan Parasi dari Kecamatan Cihara Kab. Lebak yang telah dirilis menjadi aren unggul nasional

Salah satu stakeholder, Bapak Andi Kula menyatakan bahwa mengapa sawit berkembang lebih cepat dari aren? Menurutnya, salah satu penyebabnya adalah benih aren yang lama pertumbuhannya, sawit hanya membutuhkan 4 tahun sedang aren dapat mencapai 7 tahun sehingga investor kurang tertarik dalam mengembangkan aren. Harus ada peran dari pemerintah dan swasta jika aren ingin menjadi industri seperti sawit. Dalam industri pariwisata, aren juga harus dikembangkan karena di beberapa daerah wisata seperti Baduy masih belum mengenal produk aren dan turunannya. Kula sudah memiliki 18 produk turunan aren, mulai dari produk asal nira, lidi, dan lain sebagainya. Kula tidak focus dengan eksport karena permintaan banyak, sehingga dilakukan melalui inovasi kreatif yang memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi seperti permen aren yang jika dihitung, keuntungan bisa mencapai Rp. 200.000/kg.

Bapak Sarja dari PT. Maha Reksa Perdana, sebuah perusahaan yang bergerak pada komoditas jahe dengan kapasitas 10-50 t/bulan. Jahe di Banten menjadi salah satu jahe terbaik di Nusantara. Pengembangan jahe dengan aren belum imbang karena permintaan aren lebih banyak namun sulit terpenuhi karena ketersediaan kurang. Salah satu solusinya adalah penataan lahan kebun aren. Menurutnya, pemerintah harus mendukung melalui skema bantuan perbenihan aren dan sarana produksi sehingga aren dapat tersedia sesuai kebutuhan di masa yang akan datang.

Dari Dinas Pertanian Kab. Lebak memaparkan bahwa luas aren di Kab. Lebak 2.730 ha, namun permasalahannya adalah sebagai kebun tersebut merupakan kebun campuran dan ini menjadi PR bagi Pemerintah Daerah Kab. Lebak. Usaha akan dilakukan salah satunya melalui pengajuan benih tanaman aren yang dapat didanai dari kegiatan FMSRB. Untuk itu, koordinasi dengan Kementerian Pertanian seperti dengan Ditjen Perkebunan akan dilakukan.

Kesulitan dalam perbenihan aren akan disolusikan dengan melakukan kerjasama dengan petani penangkar seperti Bapak Sujana yang memiliki benih aren Parasi label biru. Benih direncanakan dalam skema pembiyaaan APBD.

Produksi aren yang masih kurang volumenya, dapat diantisipasi melalui penataan hulu, dengan pembuatan perkebunan aren dalam satu hamparan bukan kebun campuran, dan menggerakan pembudidaya dan pembenihan aren di tingkat petani.

Selanjutnya, Balai Karantina berkomitment membantu petani dan pelaku usaha aren dalam hal proses perijinan dan regulasi eksport barang pertanian, yang sudah dilakukan secara digital. Kemudian, produksi aren didorong melalui Gerakan Tiga Kali Lipat Eksport (Gratieks)

Pada intinya, semua stakeholder yang hadir memberikan pengaruh positif dan kesepahaman langkah dalam pengembangan agribisnis aren di Kab. Lebak.(DEI)

author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "TEMU BISNIS “PENGEMBANGAN AGRIBISNIS AREN MENDUKUNG PEREKONOMIAN DAN PARIWISATA KABUPATEN LEBAK”"