ZOOM MEETING DISKUSI “BUKU MEMOAR PEJUANNG TEKNOLOGI BPTP BANTEN”

Kepala Bidang Penyuluhan Pertanian, Denny Iskandar, STP M.Si menjadi salah seorang pembicara pada rangkaian diskusi penyusunan “Buku Memoar Pejuang Teknologi BPTP Banten”, pada Jum’at (30 /07/2021)

Diskusi tersebut digelar oleh BPTP Banten dengan menghadirkan stakeholder terkait yang terdiri dari Dinas Pertanian Kab. Lebak dan petani penangkar mitra dari Kab. Lebak.

Diskusi dipandu oleh wartawan Majalah Sains Indonesia, Setia Lesmana, MSi yang sangat apik dalam melemparkan berbagai pertanyaan kepada para kontributor. Menurut Koordinator KSPHP, Dr. Sigid Handoko bahwa BBP2TP berencana menerbitkan buku memoar pejuang teknologi 33 BPTP pada Agustus 2021, sebagai hadiah dan penghargaan tinggi kepada para peneliti/penyuluh/teknisi lapang yang berjuang membumikan teknologi di berbagai daerah.

Topik yang diangkat dari provinsi paling barat pulau Jawa ini terkait perjuangan membumikan Varietas Unggul Baru (VUB) padi inovasi Balitbangtan di Prov. Banten. Para peneliti dan penyuluh pengawal diseminasi seperti Dr. Kardiyono, Dr. Pepi, Zuraida, MSi., Sri Kurniawati, MSi., dan Siti Rukmini, MSi secara runtun memaparkan jejak perjalanan panjang yang tidak mudah dalam meyakinkan sisi hulu para penangkar benih/petani budidaya, pengambil kebijakan hingga penggilingan/penjual beras di sisi hilir.

Menurut Kepala BPTP Banten, Dr. Ismatul Hidayah, SP.MSi dalam pembingkaiannya mengatakan benih merupakan salah satu input yang memberikan kontribusi signifikan terhadap produktivitas dan kulitas hasil. Pergiliran benih padi yang ditanam di suatu wilayah dibutuhkan untuk mencegah ledakan hama. Legenda varietas Ciherang sudah saatnya digeser dominansinya jika semua pihak tidak menginginkan adanya bencana serangan hama secara meluas terjadi di Banten.

Ditambahkan Isma, kebutuhan benih potensial padi di Prov. Banten semakin meningkat setiap tahunnya mengingat posisi Banten saat ini sebagai sentra ke sembilan penghasil padi nasional. Peningkatan kebutuhan benih sejalan dengan peningkatan luas panen dan luas tanam serta adanya program pemerintah dalam mendorong produksi padi nasional. Posisi yang tidak main-main hingga mendorong sinergi para pelaksana lapang kegiatan diseminasi dan pengembangan VUB padi untuk terus memompa semangatnya dalam mendampingi petani dan penyuluh daerah.

“Dari setiap bulir padi benih padi, kami menitipkan beribu keberkahan untuk para petani dan pelaksana di lapang termasuk para pemulianya,” ungkap Sri, peneliti BPTP Banten yang penulis tangkap sebagai sebuah ketulusan.

Agen perubahan inovasi bertutur rasa bahagia yang mereka rasakan jika bisa melahirkan penangkar benih baru atau petani penangkar eksis menerapkan teknologi yang didiseminasikan dan binaan bisa eksis dan maju dari sisi ekonomi dan kesejahteraan.

Kepala BPTP Banten lebih lanjut menyampaikan kebutuhan benih padi potensial di Provinsi Banten pada tahun 2019 sebanyak 11.553 ton. BPTP Banten melalui Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS) turut berperan aktif dalam menyediakan benih unggul di Prov. Banten sejak Desember 2010. Ditambahkan Isma, kurun waktu 2012-2020 telah menghasilkan 267 ton terdiri dari kelas benih FS, SS, dan SS dan VUB yang telah diproduksi sebanyak 33 varietas dan telah didistribusi di seluruh Prov. Banten khususnya di Sentra produksi yang ada di Kab. Lebak, Kab. Pandeglang, Kab. Serang dan Kota Tangerang.

Harapannya menurut Isma lagi, kontribusi UPBS yang sengaja dihadirkan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui representasi BPTP Banten sebagai instansi vertikal Kementerian Pertanian akan memberikan dampak bagi tersedianya benih padi dan produksi sebanyak 10-20 persen di Provinsi Banten sesuai penerapan 6 prinsip tepat: waktu, jumlah, jenis, tempat, mutu dan harga. Pada akhirnya upaya ini diharapkan mampu mengungkit pendapatan petani 5-10%/musim tanam, dengan daya tumbuh benih tinggi di atas 80% sehingga dapat menghemat penggunaan benih 15-25% di tingkat petani.

Menggeser Dominansi legenda VUB Ciherang di Banten

Tantangan diseminasi sekaligus pengembangan VUB padi yang dirasakan beberapa peneliti pelaksana BPTP termasuk Denny Iskandar, MSi Kepala Bidang Penyuluhan Kab. Lebak adalah bagaimana mengubah kebiasaan petani yang kadung jatuh cinta pada varietas Ciherang. Denny menyatakan bagaimana peran penyuluh daerah hingga fasilitasi dinas untuk meningkatkan eksistensi produsen benih yakni petani penangkar di Kab. Lebak sangat didorong oleh pemerintah daerah.

Denny mengakui adanya resistensi pada varietas baru yang dikenalkan BPTP kepada petani senior. Menjadi PR pelaksana diseminasi VUB sejak 2008 untuk terus meyakinkan dan mengubah preferensi petani dan penggilingan padi/pedagang beras disana.

Penolakan dan black campaign dari petani yang skeptis terhadap teknologi juga dirasakan para agen perubahan inovasi ini, selain tantangan lokasi dan infrastuktur wilayah yang belum optimal. Kunci solusi kata mereka terletak pada aksi untuk merubah mindset, melalui display VUB dalam kegiatan temu lapang sat panen dapat dibuktikan melalui performa tanaman, uji rasa hingga keunggulan produktivitasnya. Dukungan kebijakan, pengambil kebijakan, faktor teknologi, pelaku sosial (petani) merupakan faktor utama dalam rangka mewujudkan kesuksesan upaya pembuktian dimaksud.

Komunikasi metode Sistem Diseminasi Multi Channel (SDMC) menjadi cara pelaksana lapang mendekati para pihak. Peran bridging to connect the dot mulai dari petani, penyuluh hingga para pengambil kebijakan di dinas terkait sampai kepala daerah. Mereka tak jarang perlu cepat berganti baju menyesuaikan siapa yg dihadapi agar bisa diterima para mitra. Menemukan calon/petani penangkar yang berjodoh dengan teknologi juga menjadi tantangan tersendiri yang dirasakan pelaksana lapang sejak tahun 2007. Mereka secara karakter lebih terbuka pada hal-hal baru. Upaya koodinasi dengan Dinas Pertanian, petani, penyuluh, Balai Pengawasan dan Sertifikasi benih (BPSB), advokasi ke asosiasi penangkar benih hingga menghubungkan lembaga yang ada dijajaki para agen perubahan tersebut.

Selain itu bottle neck dalam pemasaran, BPTP juga ikut terjun berpromosi secara personal hingga jalur institusi. BPTP menyambungkan pada pembeli benih agar petani mendapatkan keuntungan dan terjaga semangat produksinya. BPTP Banten dalam berpromosi juga membagikan benih unggul dan bermutu secara gratis guna mendapatkan kinerja penyebaran VUB yang lebih luas.

Perjuangan sejak 2007 setidaknya kini membuahkan hasil. Seperti yang dipaparkan peneliti BPTP Banten, varietas eksisting yang digunakan petani saat ini di Banten dari hasil penelitian diperoleh data bahwa berturut-turut VUB Inpari 42, Inpari 32 dan Ciherang. Kebijakan Pemerintah baik pusat hingga daerah dalam mengusung kegiatan korporasi diakui sangat berperan dalam penyebaran massif VUB Balitbangtan. Diskusi penyusunan buku memoar BPTP Banten dapat disimak dalam channel youtube BB. Pengkajian (link https://www.youtube.com/watch?v=sh6GCELrseI)

author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "ZOOM MEETING DISKUSI “BUKU MEMOAR PEJUANNG TEKNOLOGI BPTP BANTEN”"