PELATIHAN TEKNIS BAGI PENYULUH PERTANIAN KABUPATEN LEBAK MENDUKUNG PROGRAM SIKOMANDAN DAN KOSTRATANI

Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Lebak dan Dinas Peternakan Kabupaten Lebak bekerjasama dengan Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Teknis Bagi Penyuluh Pertanian yang bertema  Pengelolaan Reproduksi mendukung SIKOMANDAN, bertempay di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kec. Cibadak, Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Lebak, Prov. Banten, tanggal 17 – 20 Februari 2020.

 Pelatihan Teknis Bagi Penyuluh Pertanian tersebut diikuti oleh 30 orang penyuluh dengan dengan rincian : 6 orang PPL dari Kec. Rangkasbitung, 3 orang dari Kec. Cileles, 1 orang dari Kec. Cipanas, 2 orang dari Kec. Sajira, 1 orang dari Kec. Leuwidamar, 1 orang dari Kec. Karanganyar, 4 orang dari Kec. Warunggunung, 4 orang dari Kec. Cibadak, 2 orang dari Kec. Cikulur, 3 orang dari Kec. Cimarga, dan 3 orang dari Kec. Maja.

Pelatihan ini secara resmi dibuka oleh Kepala Seksi Penyuluhan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Lebak, Fathul Hakim, kemudian sebagai pengantar disampaikan oleh widyaiswara BBPKH Cinagara, Dayat Hermawan, S.Pt., M.Si. Dalam arahannya Fathul Hakim berharap peserta pelatihan mengikuti seluruh kegiatan sesuai jadwal yang telah ditetapkan dan dapat menerapkannya dalam menjalankan kegiatan SIKOMANDAN dan KOSTRATANI.

Dayat Hermawan, S.Pt., M.Si. Widyaiswara Ahli Madya / Penjamin Mutu Materi Pelatihan BPKH Cinagara dalam kesempatan tersebut menjelaskan program dan kegiatan utama kementerian pertanian  SIKOMANDAN (Sapi Kerbau Komoditas Andalan Negeri).

SIKOMANDAN adalah kegiatan yang dicanangkan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian yang merupakan  program andalan bagi Dirjen PKH yang bertujuan untuk meningkatkan populasi dan produksi sapi dan kerbau di Indonesia. Pilihan terhadap sapi dan kerbau, disebabkan karena daging sapi dan kerbau sebagai salah satu sumber protein hewani yang sangat disukai masyarakat.

Sapi dan kerbau sebagai salah satu sumber protein hewani,  merupakan ternak peliharaan yang  diusahakan oleh petani dalam skala kecil sebagai usaha sambilan atau disebut dengan peternakan rakyat. Sistem peternakan rakyat sebagai usaha yang terintegrasi dalam sistem usaha tani di pedesaan (diversifikasi pertanian), mampu menjadi penopang ekonomi keluarga. Dengan banyaknya peternak yang terlibat pada usaha peternakan, diharapkan kondisi tersebut dapat meningkatkan dan menumbuhkan ekonomi kerakyatan terutama di pedesaan.

Kepala Bidang Produksi Peternakan, Dinas Peternakan Kab. Lebak, Bapak Ipan Gura Ginting, ST., MM menjelaskan, bahwa kebutuhan daging nasional saat ini belum sepenuhnya dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri karena pertumbuhan populasi sapi dalam negeri masih rendah atau belum optimal. Lambatnya pertumbuhan populasi sapi dalam negeri secara umum disebabkan karena belum optimalnya manajemen reproduksi ternak sapi ditingkat peternak dan adanya gejala penurunan peforma ternak yang berdampak terhadap penurunan produksi daging.

Mencermati hal tersebut dalam upaya percepatan peningkatan populasi sapi dan kerbau, pemerintah menjalankan Program Sikomandan melaui kegiatan Optimalisasi Reproduksi. Melalui Optimalisasi Reproduksi diharapkan dapat memperbaiki system pelayanan peternakan kepada masyarakat, perbaikan manajemen reproduksi dan produksi ternak serta perbaikan sistem pelaporan dan pendataan reproduksi ternak melalui sistem aplikasi iSIKHNAS. Untuk mengoptimalkan pelaksanaan Optimalisasi Reproduksi, maka pelaksanaannya dilakukan secara teritegrasi dengan kegiatan pendukung lainnya yaitu pendistribusian semen beku dan N2 cair, penanggulangan gangguan reproduksi, penyelamatan pemotongan betina produktif dan penguatan pakan serta peningkatan SDM melalui pelatihan Inseminasi Buatan (IB), Pemeriksa Kebuntingan (PKb) dan ATR.

Langkah operasional untuk mewujudkan keberhasilan Sikomandan dilakukan antara lain : 1) gerakan optimalisasi reproduksi pada 5,8 juta akseptor yang terintegrasi dengan pengembangan Hijauan Pakan ternak (HPT) pada luasan 2.341 Ha, 2) penanganan gangguan reproduksi (237.540 ekor) , 3) pengendalian pemotongan betina produktif (4.000 ekor).

Optimalisasi Reproduksi merupakan program nasional untuk ketahanan pangan yang harus dijalankan oleh seluruh instansi pemerintah terkait pusat maupun daerah untuk menterjemahkan, merumuskan dan mengimplementasikan strategi dan upaya untuk mensukseskan program tersebut.

Program lain yang dijalankan oleh Ditjen PKH guna mendukung Sikomandan adalah : 1) Penambahan Indukan Impor sebanyak 15.000 ekor yang disebar pada 9 Provinsi Prioritas dan juga pada 6 UPT Perbibitan. 2) Integrasi sapi sawit dilaksanakan pada 6 provinsi seluas 150.000 Ha, 3) Memfasilitasi akses KUR (Rp.9,01 T), asuransi ternak (150.000 ekor), dan investasi (Rp.3,80 T), 4) penanganan Penyakit Hewan Menular (PHMS) sebanyak 5.970.250 dosis, 5) Mensupport program KOSTRATANI.

Materi pelatihan terdiri 6 materi yaitu : 1) menentukan BCS (pengajar : Jamaludin, S.Pt.), 2) menentukan umur untuk perkawinan (pengajar : Hadi Winatapura, S.Pt.), 3) mendeteksi berahi (pengajar : drh. Imam Alriadi), 4) mengidentifikasi efek perkawinan silang (pengajar : Andry Segara, S.Pt.), 5) menolong induk yang melahirkan (pengajar : Iqin Zaeny Mansyur, S.Pt.), dan 6) merawat anak yang melahirkan (pengajar : drh. Eneng Sumyati). Metode pelatihan menggunakan metode ceramah, diskusi, dan demontrasi. Dari proses kegiatan pelatihan terungkap bahwa sumberdaya manusia (terutama penyuluh pertanian) di Kabupaten Lebak siap mendukung program SIKOMANDAN karena di wilayah ini sangat berpotensi dikembangkan ternak ruminansia besar yang tersebar di bebarapa kecamatan, diantaranya ternak sapi potong di Kec. Rangkasbitung, Cipanas, Cibadak, Cikulur, Malingping, Wanasalam, dan Panggarangan; serta ternak kerbau tersebar di Kec. Rangkasbitung, Panggarangan, Cipanas, Sajira, dan Muncang. Sementara limbah pertanian yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak diperoleh dari limbah tanaman padi (jerami padi) yang diperoleh dari lahan sawah yang hampir merata di setiap kecamatan. Begitu pula dengan limbah tanaman lainnya yaitu jagung, singkong, dan kacang kedelai. Tahap akhir dari rangkaian pelatihan ini peserta diwajibkan membuat rencana tindak lanjut, serta diadakan evaluasi terhadap materi pelatihan, fasilitator/pelatih, dan penyelenggaraan. Selanjutnya kegiatan ini ditutup secara resmi oleh Kepala Seksi Penyuluhan, Fathul Hakim.(DEI)

author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "PELATIHAN TEKNIS BAGI PENYULUH PERTANIAN KABUPATEN LEBAK MENDUKUNG PROGRAM SIKOMANDAN DAN KOSTRATANI"