GERAKAN TANAM PERDANA PILOT PROJECT PENGEMBANGAN KAWASAN JAGUNG BERBASIS KORPORASI PETANI

Gambar : Kepala dinas beserta pegawai Dinas Peratanian dan Perkebunan Kab. Lebak  menghadari pilot project kawasan jagung berbasis korporasi

Dalam rangka mengembangkan “Koorporasi Petani”, Pemerintah Pusat mulai tahun 2018 telah mengalokasikan anggaran untuk membuat Pilot Project Pengembangan Kawasan Pertanian berbasis Koorporasi Petani. Salah satu lokasi Pilot Project tersebut adalah Kabupaten Lebak.

Kabupaten Lebak terpilih untuk menjadi lokasi Pilot Project Pengembangan Kawasan Jagung Berbasis Koorporasi Petani tepatnya di Kecamatan Gunungkencana. Luas areal kawasan jagung yang dipersiapkan adalah 1.000 hektar.

Gerakan Tanam Perdana Pilot Project Pengembangan Kawasan Jagung Berbasis Korporasi Petani,  dilaksanakan di Desa Bulakan, Kabupaten Lebak, Banten, Kamis (26/4/2018).

Acara dihadiri oleh Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten Ir. H. Agus M. Tauchid S, M.Si, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kab. Lebak H. Dede Supriatna, Administratur Perum Perhutani Ir. Henry Gunawan, M.Si, Sekretaris Ditjen Tanaman Pangan yang diwakili Kepala Bagian Perencanaan Ugi Sugiharto, Kepala Biro Perencanaan yang diwakili Kepala Bagian Perencanaan Wilayah Ir. Dewa Ngakan Cakrabawa, MM,   perwakilan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta perwakilan PT. Charoen Phokpand sebagai calon off taker jagung.

Kegiatan pilot project merupakan tindak lanjut dari Permentan No. 18 Tahun 2018 tentang Pedoman Pengembangan Kawasan Pertanian Berbasis Korporasi Petani yang mengamanatkan agar percepatan pengembangan kawasan dilakukan melalui kegiatan percontohan.

Pada kesempatan tersebut, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Lebak, Dede Supriatna menyampaikan ucapan terima kasih kepada pemerintah pusat dan pemerintah provinsi yang telah memilih kabupaten lebak sebagai lokasi pilot project atau percontoh model pengembangan jagung berbasis korporasi petani, apabila model dari pilot project ini berhasil maka akan disebarkan ke seluruh Indonesia. Sehingga hal ini menjadi tanggung jawab besar bagi para petugas di kabupaten lebak untuk melaksanakan pilot project ini dengan baik.

Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten, Agus M Tauchid mengatakan, di Banten lahan pertanian terluas berada di Lebak. Pengembangan jagung di Banten sangat strategis, karena dekat pasar, khususnya industri pakan ternak yang jumlahnya mencapai 16 perusahaan.

Catatan Dinas Pertanian Banten, kebutuhan jagung untuk industri pakan sebanyak 1,6 juta ton/tahun atau sekitar 4.600 kg/hari jagung pipil kering. Kebutuhan yang besar dan kedekatan jarak dengan pabrik pakan inilah yang menurut Tauchid harus bisa dimanfaatkan masyarakat tani.  

Dalam sambutannya, Kepala Bagian Perencanaan Wilayah Dewa Ngakan Cakrabawa menyampaikan bahwa kunci sukses kegiatan percontohan adalah kuatnya kelembagaan ekonomi petani untuk mengelola bisnis usahatani secara berkelanjutan dan untuk meningkatkan kualitas produksi.

“Untuk itu pemerintah melakukan pembinaan dan pendampingan petani guna meningkatkan kualitas produksi, pembinaan dalam pengelolaan kelembagaan ekonomi petani, fasilitasi alat dan mesin pra panen, pasca panen dan pengolahan, serta pembukaan akses terhadap modal dan pemasaran,” ujar Dewa Ngakan.

Kepala Bagian Perencanaan Ditjen Tanaman Pangan, Ugi Sugianto menuturkan, petani tak hanya bertanam konvensional yaitu budidaya saja tapi juga diajari aspek pengolahan dan pemasarannya sehingga menjadi satu bentuk korporasi petani. “Untuk mewujudkannya kita berikan bantuan traktor, ekskavator bahkan dryer. Dengan bantuan dan pendampingan, kita harapkan produknya bisa mencapai 8ton/ha dan mampu memasok pasar,” paparnya.

Pintu pemasaran sendiri telah dibuka Kementerian Pertanian dengan kesepakatan bersama PT Charoend Pokphand Indonesia (CPI) yang bersedia menyerap hasil panen petani di kawasan pertanian jagung ini. Harganya, Rp 3.800/kg dan tingkat kekeringan 15%. 

Pada kesempatan ini dilakukan pula penandatanganan MoU antara Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) dengan Perum Perhutani dalam rangka pemanfaatan lahan untuk budidaya jagung, serta antara LMDH dengan PT. Charoen Phokpand untuk komitmen pembelian jagung sesuai standar mutu.

 

Kegiatan pilot project jagung di Kabupaten Lebak dilakukan secara tumpang sari di lahan Perum Perhutani seluas 1.000 Ha dan pendampingan akan dilakukan selama dua tahun mulai 2018-2019.

Lahan seluas 1000 ha yang akan menjadi kawasan pertanian jagung di Kabupaten Lebak tersebut terdapat di 4 desa yang saling berdekatan yaitu Desa Gunung Kendeng, Desa Bulakan, Desa Tanjungsari dan Desa Kramat Jaya.  Keempat desa tersebut berada pada kawasan pengelolaan lahan Perhutani, sehingga nantinya pertanaman jagung berada di bawah tegakan batang pohon minyak kayu putih, sehingga petani maupun LMDH mendapatkan pendapatan musiman dari jagung dan pendapatan tahunan dari kayu putih.

Korporasi petani yang bisa terbentuk terdiri dari kelompok tani dari Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) dan Kelompok Tani yang bersinergi bersama BUMDes Bulakan yang sudah ada.

Administratur Perhutani KKPH Banten, Hendri Gunawan menuturkan, lahan Perhutani bisa dimanfaatkan masyarakat untuk bertanam selain hasil kayu atau perkebunan. “Kami siap jika Kementerian Pertanian melalui Dinas Pertanian di daerah menginginkan lahan yang lebih luas,” katanya.

Ketua LMDH Bulakan, Wawan menuturkan, dengan adanya bantuan pemerintah dan kerjasama dengan industri pakan serta perbankan, pilot project penanaman perdana jagung berbasis korporasi mampu berproduksi 8 ton/ha menjadikan petani makmur dengan bisnis jagung.

author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "GERAKAN TANAM PERDANA PILOT PROJECT PENGEMBANGAN KAWASAN JAGUNG BERBASIS KORPORASI PETANI"