BUPATI LEBAK MELEPAS MAHASISWA / ALUMNI FAKULTAS PERTANIAN UNTIRTA PARA PENDAMPINGAN UPSU PAJALE DI KABUPATEN LEBAK

Pemerintah pusat melalui kementerian pertanian sejak tahun 2015 mencanangkan program upaya khusus (upsus) swasembada pangan 2015-2017 dengan fokus tiga komoditas, yakni padi, jagung, dan kedelai (pajale). Dengan program upsus pajale tersebut, pemerintah bertekad mewujudkan kedaulatan pangan nasional dalam tiga tahun, yakni pada 2017.

Kabupaten lebak, yang merupakan salah satu sentra produksi pangan di provinsi banten harus mampu memberikan kontribusi yang signifikan dalam mewujudkan kedaulatan pangan nasional tersebut. Hal ini karena potensi sumber daya alam dan potensi sumber daya manusia di kabupaten lebak sangat mendukung hal tersebut.

Kabupaten  lebak memiliki luas 304.472 ha terdiri dari lahan sawah seluas 47.760,2 ha dan lahan darat seluas  256.711,8 ha. Dari luas 304.472 ha tersebut, sebagian besar adalah kawasan pedesaan yang sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani.

Selama 5 tahun terakhir, kabupaten lebak terus berupaya untuk meningkatkan produksi padi, jagung dan kedelai juga beberapa komoditas unggulan lain.

Untuk komoditas padi, setiap tahun kabupaten lebak dapat meningkatkan luas panen rata – rata sebesar 5,64 %, dari 86.191 hektar luas panen pada tahun 2012 meningkat menjadi 107.320 hektar pada tahun 2016, sehingga produksi padi khususnya padi sawah dapat meningkat rata – rata 7,49% setiap tahun.

Untuk jagung, masih diperlukan usaha dan dukungan yang besar agar potensi yang ada dapat dioptimalkan menjadi produksi jagung yang memenuhi kebutuhan masyarakat. Dari rata – rata luas tanam baru mencapai 1.806 hektar per tahun, sedangkan luas panen jagung baru mencapai rata – rata  487 hektar per tahun, dengan rata – rata produksi baru mencapai 1.313 ton tongkol kering. Masih rendahnya luas panen dibandingkan luas tanam karena kebiasaan para petani yang melakukan panen muda jagung karena dianggap lebih menguntungkan dan lebih mudah penanganannya.

Sementara untuk kedelai, rata – rata luas tanam baru mencapai 1.235 hektar per tahun, luas panen 1.055 hektar per tahun, rata – rata produksi baru mencapai 4.992 ton kedelai brangkasan.

Dari gambaran produksi tersebut, khususnya untuk jagung dan kedelai, masih dibutuhkan upaya serius agar potensi yang dimiliki kabupaten lebak baik potensi lahan dan potensi sumber daya manusianya dapat di berdayakan seluruhnya dengan baik.

Dalam upaya peningkatan produksi padi, jagung dan kedelai (pajale) di kabupaten lebak, masih ditemukan sejumlah permasalahan, yaitu antara lain:

  • Terjadinya alih fungsi lahan pertanian menjadi non pertanian. Untuk mengatasinya pemerintah daerah telah menyusun perda tentang lahan pertanian pangan berkelanjutan (lp2b) dan telah menetapkan perda rencana tata ruang dan wilayah (rt/rw). Diharapkan dengan terbitnya perda tersebut, kita dapat melindungi lahan pertanian produktif agar tidak berlaih fungsi menjadi non pertanian.
  • Degradasi kesuburan lahan. Pemerintah kabupaten lebak terus berupaya mengembalikan kesuburan lahan diantaranya melalui bantuan pupuk organik kepada para petani
  • Perubahan fenomena iklim. Perubahan iklim sangat berdampak terhadap ketersediaan air irigasi. Oleh karena itu pemerintah daerah terus berupaya memberikan bantuan pompa air bor (submersible) dan pompa air tenaga surya untuk lahan sawah tadah hujan yang tidak memiliki sumber air.
  • Keterbatasan sarana dan prasarana. Pemerintah daerah didukung oleh pemerintah pusat terus berupaya untuk menyediakan sarana dan prasarana berupa handtraktor, pompa air, alat tanam, alat panen bagi para petani.
  • Resiko usaha tani tinggi. Pemerintah daerah kabupaten lebak sudah menganjurkan agar petani mengikuti program asuransi usaha tani padi (autp) untuk mengurangi resiko gagal panen.

Upaya – upaya yang harus dilakukan dalam meningkatkan produksi pajale dan mengoptimalkan potensi sumber daya yang ada di kabupaten lebak dan untuk mengatasi permasalahan yang ada, tidak akan terlepas dari adanya pengawalan dan pendampingan. Pengawalan dan pendampingan dilakukan  secara  terpadu  antara penyuluh, babinsa dan mahasiswa/alumni sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing.

Untuk pengawalan dan pendampingan oleh para penyuluh, selama ini telah berjalan dengan baik. Bahkan pemerintah daerah kabupaten lebak membuat kebijakan untuk menambah tenaga penyuluh pertanian melalui rekrutmen mantri tani desa (mtd) sebanyak 340 orang untuk 340 desa se kabupaten lebak. Diharapkan dengan adanya tenaga mtd, pengawalan dan pendampingan kepada para petani  dapat lebih berjalan lebih baik lagi.

Untuk pengawalan dan pendampingan oleh para bintara pembina desa (babinsa) juga telah berjalan dengan baik. Sejak tahun 2015, pemerintah daerah kabupaten lebak telah melakukan kerjasama pengawalan dan pendampingan upsus pajale dengan kodim 0603/lebak.

Sedangkan pendampingan oleh mahasiswa / alumni pada tahun 2015 – 2016, pendampingan dilaksanakan oleh para mahasiswa dari sttp bogor. Dan tahun 2017 ini akan dilakukan oleh para mahasiswa / alumni dari fakultas pertanian universitas tirtayasa. Sehubungan dengan hal tersebut, sebanyak 30 pendamping upaya khusus (upsus) padi, jagung dan kedelai (pajale) dari univeritas sultan ageng tirtayasa (untirta) dilepas bupati lebak, iti octavia jayabaya, rabu (5/4/2017).

Bupati lebak berharap dengan pendampingan dari para mahasiswa dan alumni ini membawa dampak yang positif dan para mahasiswa / pendamping tersebut dapat membantu meningkatkan produksi pajale diatas 5%.

Para mahasiswa / alumni fakultas pertanian universitas tirtayasa yang mendapat tugas sebagai pendamping diharapkan dapat bersungguh – sungguh melaksanakan tugas pendampingan tersebut.

Adapun tugas pendampingan yang harus dilaksanakan oleh para mahasiswa adalah sebagai berikut :

  1. Melakukan pengawalan dan pengamanan penyaluran benih, pupuk dan alsintan (alat mesin pertanian)
  2. Menggerakkan tanam serentak
  3. Menggerakkan pengamanan dan perbaikan jaringan irigasi.
  4. Menggerakkan pengamanan pertanaman dari serangan hama dan penyakit tanaman
  5. Mendiseminasi (menyebarkan inovasi) informasi dan teknologi pertanian
  6. Melaksanakan kursus tani / sekolah lapangan
  7. Melaksanakan demfarm (percontohan) petani
  8. Melaksanakan hari temu lapangan petani (farmer field day/ffd).
  9. Menggerakkan panen dan pengamanan hasil
  10. Mengembangkan jejaring dan kemitraan usaha
  11. Melaporkan kegiatan pendampingan melalui dinas pertanian dan perkebunan kabupaten lebak.

Kita tunggu bersama kontribusi dan karya para mahasiswa / alumni pendamping upsus pajale di kabupaten lebak. Semoga dapat memberikan kontribusi yang nyata untuk tercapainya sasaran upsus pajale di kabupaten lebak tahun 2017.(dei)

author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "BUPATI LEBAK MELEPAS MAHASISWA / ALUMNI FAKULTAS PERTANIAN UNTIRTA PARA PENDAMPINGAN UPSU PAJALE DI KABUPATEN LEBAK"